Senin, 07 Februari 2011

Control Room


Dalam produksi berita televisi, control room juga merupakan sebuah ruangan yang penting. Di control room terdapat berbagai alat yang mendukung sebuah produksi berita, diantaranya :

CCU/Camera Control Unit

Ini merupakan satu alat yang bisa mengontrol beberapa fungsi yang ada di kamera. Yang bisa dikontrol atau digantikan fungsinya melalui alat ini diantaranya adalah pengaturan pencahayaan (brightness contrast) , temperatur warna (color temperature), kecepatan (shutter speed), white balance, serta warna hue (red, green, blue). Jumlah CCU yang digunakan sama persis dengan jumlah kamera yang digunakan karena masing-masing kamera dikontrol oleh satu CCU.

Vision Mixer

Satu alat untuk mengatur pemilihan gambar lengkap dengan berbagai jenis transisi. Banyak jenis vision mixer, dari yang paling sederhana yang hanya memiliki tiga source input dengan satu source ouput sampai yang paling lengkap dengan source input dan output puluhan. Alat ini berbentuk keyboard dengan banyak tombol dengan masing-masing fungsi.

Monitor

Berfungsi untuk melihat tampilan visual yang dihasilkan dari kamera. Banyaknya monitor yang digunakan tentu saja tergantung dari berapa kamera yang digunakan. Ada monitor dari berbagai source kamera, monitor preview, serta monitor hasil akhir.

VTR/Video Tape Recorder

VTR/Video Tape Recorder atau biasa juga disebut VCR/Video Cassette Recorder digunakan untuk merekam hasil shooting. Ada dua jenis VTR yang digunakan yakni VTR yang digunakan untuk merekam dan VTR yang digunakan untuk menayangkan source video/play back yang sebelumnya sudah dibuat, biasa juga dikenal dengan sebutan VT.

Character Generator

Biasa juga disebut dengan CG atau Chargen , ini adalah untuk membuat serta menampilkan title,sub title. Serta graphic yang dibutuhkan dalam tayangan produksi acara televisi. Ada yang berbentuk keyboard yang dihugungkan langsung ke vision mixer, ada juga beerbentuk satu unit komputer yang berdiri sendiri yang bisa dihubungkan ke vision mixer.

Waveform

Alat ini digunakan untuk mengukur kualitas video yang dihasilkan oleh masing-masing kamera serta dari VT. Juga bisa digunakan untuk mengukur audio. Waveform menampilkan graphic yang menjadi parameter atau acuan yang bisa digunakan apakan kualitas video dan audio sudah sesuai harapan atau belum.

Talkback

Untuk sarana komunikasi antar kru yang terlibat dalam sebuah produksi televisi dengan multikamera diperlukan alat komunikasi. Alat vital ini dinamakan talkback. Tidak seperti pada kamera ENG, dalam kamera EFP dan kamera studio, talkback bisa diintegrasikan langsung di kamera tersebut. Talkback terdiri atas microphone serta headset.

Teleprompter

Tidak semua produksi multikamera memerlukan alat ini, sangat tergantung dari jenis acara yang diproduksi. Ini merupakan alat bantu bagi anchor atau pembawa acara untuk menyampaikan informasi tertentu. Satu set alat ini terdiri dari monitor yang diintegrasikan pada kamera serta satu unit komputer di MCR.

Audio Mixer

Pengaturan suara dilakukan menggunakan audio mixer, yang tidak hanya mengatur volume tinggi rendahnya suara yang dihasilkan tapi meliputi berbagai kepentingan audio secara keseluruhan.

Berita Televisi

Beberapa hari ini saya sedang menjalankan Kuliah kerja Lapangan (KKL) di salah satu televisi suasta di Indonesia. Bukan televisi news, seperti si indomart dan alfamart memang, tapi lumayan buat pelajaran dan pengalaman saya. Minggu pertama saya lalui di ruang produksi. Saya harus menghabiskan waktu di dalam kantor dan hanya bertugas untuk memantau, tanpa diberi kesempatan untuk mencoba alat yang benar memang saya buta dengan alat itu. Tapi setidaknya saya mengetahui bentuk, nama, dan fungsi alat-alat tersebut.

Bukan hanya alat, saya juga mengetahui bagaimana flow of news di sebuah media televisi. Bukan hal yang semudah media cetak memang, tapi tak sesulit media cetak. Yang saya ingin bagi pertama adalah flow of news di sebuah media televisi. Sebelum sebuah berita tayang atau istilahnya naik, melalui banyak sekali proses.

1. Rapat Budgetting
Rapat yang diadakan setiap pukul 09.00, 11.30, 17.00, dan 22.00 ini membahas megenai ada berita apa saja hari ini. Sebelumnya setiap divisi, sudah membuat list berita yang mereka peroleh. Misalnya divisi berita reguler, kriminal, dan khusus. Berita yang mereka peroleh pun bisa dari kordintor liputan (korda) atau dari koordinator darah (korda).
Setelah pembacaan listing berita, maka disebutkan juga berita mana yang kira-kira menarik dan mempunyai news value yang tinggi, sehingga layak untuk ditayangkan. Kemudian redaksi (peserta rapat) berdiskusi apakah benar topik berita yang diajukan untuk ditayangkan tersebut benar layak untuk naik atau tidak?
Jika layak, maka berita tersebut akan lanjut ke tahap berikutnya.
Dalam rapat budgetting ini, tidak hanya memabahas mengenai berita apa yang akan tayang, tapi juga membahas materi apa saja yang akan muncul di program berita selanjutnya. Jika ada materi yang mengharuskan adanya peliputan, maka dibicarakan juga siapa saja reporter dan cameramen yang akan berangkat untuk meliput.

2. Peliputan
Proses peliputan tentunya tidak asing lagi didengar. Ini adalah proses dimana seorang wartawan mencari berita dan turun langusng ke lapangan. Mungkin peliputan seorang wartawan media televisi tidak terlalu berat dibandingankan wartawan media cetak. ini hanya sekedar pendapat saya berdasarkan pengalaman yang saya peroleh dan apa yang saya lihat.
Media cetak yang bersaing ketat dengan media-media lainnya harus mempunyai ulasan berita yang lebih mendalam dan lengkap. Karena inilah salah stau kelebihan media cetak. Berbeda hal nya dengan televisi. Saat komunikan (penikmat berita) ingin menyaksikan sebuah berita di TV, mereka lebih ingin melihat visualisai sebuah berita. Bukan berarti kelengkapan fakta tidak penting dalam sebuah berita televisi. Hanya saja, setip media memiliki kelebihan yang bisa mereka tonjolkan.
Cetak dengan kedalaman beritanya, online dengan kecepatan dan kemudahan mengaksesnya, radio dengan kecepatannya, dan televisi dengan visualisasinya.
Mencari berita tidak hanya melalui peliputan saja, bisa melalui kontributor-kontributor yang tersebar di daerah-daerah. Memang, seorang kontributor tetap harus melewati proses peliputan. Hasil liputan mereka ini lah yang nantinya akan dikirim via Satelit ke dalam e-mail koordinator daerah. Untk kemudian koordinator daerah melisting berita apa yang dia terima untuk selanjutnya diajukan dalam rapat budgetting.

3. Penentuan Time Code
Time code ditentukan oleh produser acara. Time code dilakukan bersamaan dengan preview gambar yang telah diperoleh dari tim liputan. Pencatatan time code berfungsi untuk mempermudah proses editting gambar dan menghindari terjadinya ketidaksesuaian antara narasi dan gambar.

4. Pembuatan Narasi
Pembuatan narasi berita dilakukan oleh produser berdasarkan fakta yang diperoleh wartawan di lapangan dan dari berbagai macam sumber sembagai refrensi guna melengkapi fakta.

5. Dubbing
Proses ini dilakukan oleh dubber, untuk membaca narasi badan berita. karena lead in berita dibaca oleh presenter.

6. Editting Gambar
Gambar yang akan di edit disesuaikan dengan time code dari produser dan batas maksimal timeline. Sebuah gambar berita tidak boleh terlalu panjang durasinya, karena nanti bisa mengakibatkan isi berita tidak fokus. Sebuah gambar berita harus "padat". Hanya berisi visualisasi dari narasi yang ada. Dalam proses editting inilah proses mixing antara audio dan visual digabung dalam proses yang disebut mixxing.

7. Berita Tayang
Gambar berita yang telah siap akan dibawa ke ruang control room untuk diputar di VTR agar bisa tayang.

8. Dokumentasi
Berita yang telah tayang, kasetnya akan disimpan dalam ruang dokumentasi, jadi jika suatu saat berita kembali dibutuhkan, bisa dicari di ruang dokumentasi. Tidak hanya master kaset berita yang disimpan di ruang dokumentasi, tapi naskah berita, dan susunan acara berita juga disimpan di ruang dokumentasi.