Senin, 28 Desember 2009

Pemaknaan Konotasi (salah satu foto pameran word press 2009)

  • Shot size : Long shot.

Dengan shot size yang menggunakan long shot, penikmat foto bisa melihat keadaan yang dialami si obyek secara keseluruhan.

  • Angle : High angle.

High angle yang digunakan akan membuat penikmat foto merasa di drajat yang lebih baik dari pada drajat obyek. Maksudnya agar penikmat foto dapat melihat ke bawah, bahwa masih banyak orang yang kehidupannya jauh lebih memprihatinkan. Jadi, kesan dramatis akan lebih mengena.

  • Penempatan Subyek : Di tengah

Obyek ditempatkan di tengah, agar penikmat foto dapat langsung fokus apa inti dari foto ini, tanpa harus mencari-cari mana obyek utamanya.

  • Lensa : Normal

Penggunaan lensa foto normal membuat foto ini jelas, situasi yang ada terlihat apa adanya.

  • Pose : Obyek tidak melihat kamera

Mengesankan alami dan situasi tidak dibuat-buat.

  • Obyek : Dua orang yang sedang melakukan aktifitas memasak, reruntuhan bangunan dan peralatan dapur

Ini menggambarkan keprihatinan kehidupan mereka setelah rumah mereka hancur oleh gempa. Mereka tetap bertahan di reruntuhan bangunan dan tetap melakukan kegiatan memasak seperti biasanya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Jumat, 25 Desember 2009

World Press



Zhao qing
China, shenzhen evening news.

2nd prize general singles

Korban yang selamat dari gempa bumi yang menyerang daerah timur Sinchuan, China sedang memasak di tengah-tengah reruntuhan bangunan rumah mereka di kota Leigu, Beichuan, 20 Mei.
Gempa yang berkekuatan 7,9 skala richter ini terjadi 8hari sebelumnya membunuh sedikitnya 7000 orang dan menyebabkan hancurnya infrastuktur.
Kota Beichuan menjadi salah satu kota yang terparah.

Rabu, 09 Desember 2009

Caption Foto Idul Adha


Penguburan - Yono (38 tahun), Sardi (35 tahun), dan Tejo (40 tahun), sedang mengeluarkan kotoran kambing kurban pada hari raya Idul Adha, Juma'at 27 November 2009, yang dilaksanakan di Musholla Baitul Amanah, Kranggan, Bekasi-Jawa Barat. Kotoran kambing yang telah dikeluarkan harus dikubur dengan tanah agar tidak menimbulkan polusi nantinya. (gia)

Pemaknaan Konotasi Foto Feature (UTS)


Sunset - Pasangan muda mudi menikmati sunset di Pantai Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (24/10). Sunset dapat menciptakan suasana yang romantis dengan cahayanya yang keemasan dan desiran ombak yang terdengar. (gia)

Pembacaan makna konotasi pada foto di atas :
  • Shot size : long shot. Long shot digunakan, agar penikmat foto dapat melihat pemandangan secara kseluruhan .
  • Angle : eye level. Penikmat foto akan merasa setara (sederajat) dengan obyek di dalam foto.
  • Penempatan subyek : Tengah bawah. Fotografer ingin memfkuskan pada pemandangan sunset yang ada, jadi obyek (manusia) tidak terlalu ditonjolkan.
  • Lensa : Normal. Keseluruhan foto terlihat jelas dan apa adanya.
  • Pose : Membelakangi kamera. Foto yang dihasilkan terkesan alami, tidak disengaja.
  • Obyek : Pohon kelapa dan laut, menunjukkan tempat (pantai). Pasangan muda-mudi, lampu.

Roland Barthes - Teori Konotasi foto

Secara etimologis semiotik berasal dari kata Yunani semeion yang berarti penafsir tanda atau tanda dimana sesuatu dikenal. Semiotika ialah ilmu tentang tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaan berfungsi. Semiotika ialah cabang ilmu dari filsafat yang mempelajari “tanda” dan biasa disebut filsafat penanda. Semiotika adalah teori dan analisis berbagai tanda dan pemaknaan.

Aliran semiotik konotasi yang dipelopori oleh Roland Barthes(1915-1980), dimana pada waktu menelaah sistem tanda tidak berpegang pada makna primer, tetapi mereka berusaha mendapatkannya melalui makna konotasi. Barthes menyatakan bahwa ada dua sistem pemaknaan tanda: denotasi dan konotasi. Semiotika Barthes dinamakan semiotik konotasi ialah untuk membedakan semiotik linguistic yang dirintis oleh mentornya, Saussure.

Dalam konsep Roland Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes.

Di dalam semiologi Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi.

Ia lebih lanjut mengatakan bahwa makna “harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman, 1999:22). Dalam kerangka Roland Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda.

Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure (mentornya.) Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya.

Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure.

Teori EDFAT

Metode EDFAT terdiri dari Entire, Detail, Frame, Angle, Time. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh “Walter Cronkite School of Journalism and Telecommunication Arizona State University”. Fungsi EDFAT sendiri adalah untuk membantu calon jurnalis atau fotografer amatir mengambil ambar yang mempunyai nilai berita dan gambar tersebut juga bisa mengandung cerita.

Entire : Dikenal juga sebagai ‘established shot’, suatu keseluruhan pemotretan yang dilakukan begitu melihat suatu peristiwa atau bentuk penugasan lain. Untuk mengincar atau mengintai bagian-bagian untuk dipilih sebagai obyek.

Detail
Suatu pilihan atas bagian tertentu dari keseluruhan pandangan terdahulu (entire). Tahap ini adalah suatu pilihan pengambilan keputusan atas sesuatu yang dinilai paling tepat sebagai ‘point of interest’


Frame
Suatu tahapan dimana kita mulai membingkai suatu detil yang telah dipilih. Fase ini mengantar seorang calon foto jurnalis mengenal arti suatu komposisi, pola, tekstur dan bentuk subyek pemotretan dengan akurat. Rasa artistik semakin penting dalam tahap ini.

Angle
Tahap dimana sudut pandang menjadi dominan, ketinggian (high angel), kerendahan (Low angle), level mata (Eye Angle), kiri, kanan dan cara melihat. Fase ini penting mengkonsepsikan visual apa yang diinginkan.

Time
Tahap penentuan penyinaran dengan kombinasi yang tepat antara difragma dan kecepatan. Pengetahuan teknis atas keinginan membekukan gerakan atau memilih ruang tajam adalah salah satu persyaratan yang sangat diperlukan.






Selasa, 01 Desember 2009

Foto Idul Adha

1) Pengambilan foto frame



2) Pengambilan foto entire




3) Pengambilan foto ekspresi objek



4) Pengambilan foto berdasarkan detail foto .






5) Pengambilan foto berdasarkan angle.
Pengambilan gambar low angle .


Pengambilan gambar eye angle.


Pengambilan gambar high angle .