Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah IISIP - Jurnalistik 2008. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah IISIP - Jurnalistik 2008. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2011

Kuliah Pakar Tamu ''Kolaborasi Online Journalism dan Social Media''



Pada Jumat, 10 Juni 2011 Kampus Tercinta Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta kembali menggelar kuliah pakar tamu dengan salah satu pembicaranya Agung Pragitya Vazza. Beliau merupakan Kepala Republika Online. Seminar yang dimulai sejak pukul 13.00 ini diikuti oleh mahasiswa IISIP Jakarta, khususnya mahasiswa jurusan.


Dalam kuliah pakar tamu ini diantaranya dibahas mengenai perbedaan Perbedaan Jurnalistik media online dengan jurnalistik cetak yaitu terletak pada speed/kecepatan mengupdate berita.

Berikut audio kutipannya.






Kamis, 24 Maret 2011

Karzai Menamai Daerah yang Akan Diserahkan Ke Pasukan Afganistan (Bentuk Berita)

22 Maret 2011 - Presiden Afganistan Hamid Karzai telah menamai 7 area dari negaranya yang akan melewati pemeriksaan oleh tentara asing.
Sebagian besar daerah tersebut adalah provinsi yang damai dari Kabul, Panjshir, dan Bamiyan dan kotanya Heart, Mazar-e-Sharif, dan Mehtarlam. Tapi, Kanzir juga menamai Lashkar Gah, pusat dari profinsi Volatile Helmand.
Peralihan ini dilihat sebagai bentuk langkah kritik di dalam transisi kekuatan sebelum tentara asing mengakhiri pertempuran di tahun 2014. “Masyarakat Afganistan tidak ingin orang asing itu mengambil tanggung jawab untuk keamanan lagi” Ucap Presiden Karzai.
Proses pemindahan akan dimulai pada bulan Juli, saat tentara asing pertama diatur untuk mundur dari Afganistan.
Setelah peraturan pertama mengenai tentara asing, di dalam area ini akan dilatih dan dipersiapkan dari tuntutan keamanan Afganistan. Ucapnya. (BBC.com- anggia)

Rabu, 09 Desember 2009

Caption Foto Idul Adha


Penguburan - Yono (38 tahun), Sardi (35 tahun), dan Tejo (40 tahun), sedang mengeluarkan kotoran kambing kurban pada hari raya Idul Adha, Juma'at 27 November 2009, yang dilaksanakan di Musholla Baitul Amanah, Kranggan, Bekasi-Jawa Barat. Kotoran kambing yang telah dikeluarkan harus dikubur dengan tanah agar tidak menimbulkan polusi nantinya. (gia)

Roland Barthes - Teori Konotasi foto

Secara etimologis semiotik berasal dari kata Yunani semeion yang berarti penafsir tanda atau tanda dimana sesuatu dikenal. Semiotika ialah ilmu tentang tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaan berfungsi. Semiotika ialah cabang ilmu dari filsafat yang mempelajari “tanda” dan biasa disebut filsafat penanda. Semiotika adalah teori dan analisis berbagai tanda dan pemaknaan.

Aliran semiotik konotasi yang dipelopori oleh Roland Barthes(1915-1980), dimana pada waktu menelaah sistem tanda tidak berpegang pada makna primer, tetapi mereka berusaha mendapatkannya melalui makna konotasi. Barthes menyatakan bahwa ada dua sistem pemaknaan tanda: denotasi dan konotasi. Semiotika Barthes dinamakan semiotik konotasi ialah untuk membedakan semiotik linguistic yang dirintis oleh mentornya, Saussure.

Dalam konsep Roland Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes.

Di dalam semiologi Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi.

Ia lebih lanjut mengatakan bahwa makna “harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman, 1999:22). Dalam kerangka Roland Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda.

Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure (mentornya.) Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya.

Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure.

Selasa, 01 Desember 2009

Foto Idul Adha

1) Pengambilan foto frame



2) Pengambilan foto entire




3) Pengambilan foto ekspresi objek



4) Pengambilan foto berdasarkan detail foto .






5) Pengambilan foto berdasarkan angle.
Pengambilan gambar low angle .


Pengambilan gambar eye angle.


Pengambilan gambar high angle .


Senin, 26 Oktober 2009

Foto Feature Jurnalistik


menciptakan suasana romantis bagi pasangan muda mudi dengan berdua saja dan menikmati sunset tidak perlu jauh-jauh. Jika mereka ingin menghabiskan malam minggu mereka, cukup pergi ke pantai Ancol, Jakarta Utara. (Sabtu, 24 Oktober 2009).

Senin, 19 Oktober 2009

Fotografer Henri Cartier Bresson dan Ami Vitale

sHenri Cartier Bresson



























Henri Cartier Bresson

Ia adalah seorang fotografer di abad 20. Pria kelahiran 22 Agustus 1908, paris ini, wafat pada 3 Agustus 2004 mempunyai ciri khas teknik pengambilan foto jurnalistik sendiri.

  • Pencahayaan

Dari pencahayaan Henri menggunakan pencahayaan yang redup dan tidak menggunakan lampu blitz dalam pengambilan gambarnya.

  • Subyek

Dari subyek akan dilihat dari tiga sisi. Pertama pose, Sebagaian besar karyanya, subyek ttidak melihat kamera, atau tidak sadar kalau dirinya sedang menjadi subyek. Kedua dari pengamatan angle, angle yang digunakan Henri mayoritas adalah low angle. Kemudian yang terakhir adalah shotsize nya henry menggunakan long shot atau medium shot.

  • Warna

Henri selalu menggunakan warna black and white (hitam-putih) untuk gambarnya.

Ami Vitale



Ami Vitale, berdomisili di miami, Florida. Saat ini banyak penghargaan telah ia menangkan seperti The Lucie Awards.

  • Pencahayaan

Ami Vitale menggunakan pencahayaan yang terang dan jelas, tehnik pencahayaan dnegan lampu juga dia mainkan dalam beberapa pemotretannya.

  • Subyek

Pose dalam hasil foto Ami Vitale selalu melihat ke kamera. Angle yang digunakan oleh Ami Vitale adalah eye head. Shot size yang sering digunakan Ami Vitale adalah Medium shot atau Close up.

  • Warna

Ani Vitale selalu menciptakan hasil foto yang cerah (penuh warna).

-ANGGIA OKTAVIA 2008110028-

Minggu, 11 Oktober 2009

Fotografi Jurnalistik

Menurut saya foto jurnalistik itu adalah gambar (foto) yang mempunyai nilai berita (news value). Seperti impact, public figure, proximity, aktualitas, human interest, dan informasi. Sebuah foto jurnalistik juga harus mengandung berita agar si penikmat berita cukup jelas mengetahui isi berita hanya dari melihat foto tersebut dan caption yang ada.

Berita foto sangat memiliki kuunggulan dibandingkan dengan berita tulis. Karena dengan adanya foto, seorang penikmat berita bisa melihat suatu lokasi atau peristiwa melalui gambar (foto) yang ada. Sehingga penikmat berita lebih bisa mempercayai mengenai berita yang ada.
Sedangkan jika berita tulis, penikmat berita hanya mengandalkan kepekaan perasaan (intuisi) mereka saja tanpa ada perwujudan secara visual.

Meskipun nantinya media TV lebih berkembang daripada media cetak, saya yakin foto jurnalistik akan tetap bertahan. Hal ini karena di dalam foto jurnalistik sudah mengandung berita dan cerita. Jadi foto jurnalistik bisa berdiri sendiri untuk tetap bisa memberikan informasi kepada masyarakat.
Selain ini foto jurnalistik juga mempunyai kelebihan dibandingkan dengan media TV, yaitu unsur artistik dan estetika dalam pengambilan tehnik foto yang baik. Unsur inilah yang jarang sekali kita temui dalam berita TV.
Publikasi foto jurnalistik nantinya bisa melalui pameran dan media on-line.
(ANGGIA OKTAVIA-2008110028)